AMAR MA’RUF NAHYI MUNKAR

 

Mari kita renungkan ayat berikut ini…… semoga Allah mencurahkan cintaNya pada kita semua. Aamiin….

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan ummat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (Ali Imran: 104)

Hadirin rahimakumullah…..

Ayat ini memiliki dua makna :

Yang pertama : kalimat ” min ” bermakna lit-tajrid, dengan demikian artinya hendaklah kamu menjadi ummat yang selalu mengajak kepada kebajikan.

Maksudnya, hendaklah seluruh ummat Islam menjadi penyeru kebaikan, memerintahkan yang ma’ruf dan mencegah kemunkaran, masing-masing sesuai dengan kedudukan dan kemampuannya, sehingga termasuk seluruhnya berhak memperoleh keberuntungan.

Dari mulai pejabat paling tinggi ( presiden ) sampai pejabat yang paling bawah ( RT ), dari manager sampai office boy, dari yang paling kaya sampai yang paling miskin, semuanya berkewajiban memerintahkan yang makruf dan mencegah dari kemunkaran, tentu sesuai dengan kapasitas dan kemampuannya masing-masing. Jadi tidak ada saling lempar tanggung jawab, apalagi hanya menyerahkan tugas ini pada para mubalig saja. Sungguh, ini tidaklah adil berapa banyak jumlah para mubalig di negri kita ini? Sedangkan jumlah penduduk indonsia sudah lebih dari 200 jt.

Makna yang kedua, kalimat ” min ” bermakna lit-tab’idh, – sebagaimana ini termashur – artinya hendaklah di dalam masyarakat Islam itu ada sekelompok kaum Muslimin yang memiliki spesialisasi, memiliki kemampuan dan memiliki persiapan yang sesuai untuk mengemban kewajiban berdakwah dan beramar ma’ruf nahi munkar.

Yang dimaksud “thaifah” di sini adalah mewujudkan Jamaatul Muslimin secara umum dan ulil amri secara khusus. Maka wajib bagi mereka mempersiapkan sebab-sebab (sarana) untuk terwujudnya thaifah tersebut dan mendukungnya baik secara moril maupun materiil agar dapat tertegak risalah-Nya. Selagi ummat atau thaifah yang dicita-citakan ini belum terwujud maka dosanya akan ditanggung oleh seluruh kaum Muslimin, sebagai fardhu kifayah yang ditinggalkan dan diabaikan.

Tidak cukup hanya afrad (individu-individu) yang berserakan (tidak teratur), yang hanya melakukan ceramah dari mesjid ke mesjid. Al Qur’an tidak menginginkan yang demikian, melainkan Al Qur’an menghendaki adanya ummat, yang mengharuskan ummat itu untuk memiliki kebebasan berdakwah ke arah kebaikan, di mana pintu kebaikan yang terbesar ialah Islam. Hendaknya ummat itu mampu memerintah dan melarang, karena hal itu adalah perkara yang lebih khusus dan lebih besar daripada sekedar mau ‘izhah dan tadzkir (nasehat dan peringatan). Setiap orang yang mempunyai lidah, ia bisa memberi nasehat dan peringatan, tetapi tidak selamanya bisa memerintah dan melarang. Dan yang dituntut oleh ayat tersebut adalah mewujudkan ummat yang mampu berdakwah, memerintah dan melarang.

Hadirin rahimakumullah…

Terlepas dari kedua makna tadi, namun artinya sama menganggap bahwa amar ma’ruf nahi munkar merupakan sebuah kewajiban kita bersama. mari kita bersama-sama untuk mewujudkan tegaknya sebuah masyarakat yang senantiasa saling mengingatkan amar ma’ruf dan nahi munkar sehingga akan terbentuk masyarakat yang adil dan sejahtera. Juga kita aakan termasuk orang-orang yang beruntung, baik dunia maupun di akhirat kelak

Al-afwu minkum,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s